Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 01 Juni 2011

Pasametonan Ida Brahmana Wayan Petung Gading dengan I Gst Agung Pt Agung ( I Gst Agung Maruti II)

PASAMETONAN
IDA BRAHMANA WAYAN PETUNG GADING
dengan I GST AGUNG PT AGUNG
FASE WAKTU SEPUTARAN KEJADIAN JIMBARAN

D
iceritakan hingga pada tahun 1677 M (Caka 1599), I Gusti Agung Maruti keturunan Arya Kepakisan telah ± 24 tahun menduduki tahta kerajaan Gel-gel. Putra bungsu Raja Dalem Di Made sebagai penerus sah tahta kerajaan Bali bernama I Dewa Agung Jambe berada dalam wilayah penyingkiran di Desa Guliang. Setelah sekian lama menunggu waktu di wilayah penyingkiran, dengan dibantu oleh laskar Anglurah Sideman dari sisi Timur, juga oleh laskar I Gusti Panji Sakti dari sisi utara (Buleleng) serta dari arah Barat didukung oleh Kyai Jambe Pule (Badung), bahu-membahu menyerang Gel-gel untuk merebut kembali tampuk kekuasaan kepada garis keturunan Dalem Sri Kresna Kepakisan.[1] Dalam pertempuran yang demikian hebat oleh prajurit-prajurit handal pada ke dua belah pihak, akhirnya gugurlah I Gusti Agung Maruti sebagai ksatria di Cedokan Oga.
            Dalam situasi seperti itu secara otomatis seluruh perangkat struktur kerajaan I Gusti Agung Maruti yang masih hidup secara serentak menyelamatkan diri. Putra-putri beliau, yakni I Gusti Agung Putu Agung, I Gusti Agung Anom dan I Gusti Ayu Made Ratih bersama saudara tirinya; Bendesa Prawangsa, Bendesa Kedeh dan Bendesa Miber, demikian pula saudara sepupunya bernama I Gusti Agung Putu Kaler Pacekan dan panjak-panjak/rakyatnya yang setia dengan total jumlah berkisar 1200-1600 orang, menuju arah barat hingga tiba di wilayah Jimbaran [2]
            Sesampai di Jimbaran rombongan pengungsian keluarga I Gusti Agung Putu Agung yang sering di sebut dengan I Gusti Agung Maruti II (karo) diterima oleh Ida Brahmana Wayan Petung Gading, penguasa Jimbaran keturunan Dalem Putih Jimbaran. Ida Brahmana Wayan Petung Gading purinya di sebelah Timur jalan, sisi Tenggara (kelod kangin) Pura Ulun Siwi. [3] Dengan diterimanya rombongan pengungsian keluarga I Gusti Agung Pt Agung bersama 1200-1600 orang pengikutnya di Jimbaran, sudah barang tentu segala pertanggungjawaban keamanan dan kelangsungan hidupnya menjadi tanggung jawab dari penguasa wilayah Jimbaran. Mulai saat itu dapatlah dimulai kehidupan rombongan pengungsian kembali kepada kehidupan baru, dengan mulainya dibuat sarana pawongan berupa tempat-tempat tinggal beserta kelengkapan parhyangannya sebagaimana yang ditunjukkan Ida Brahmana Wayan Petung Gading. Selama tinggal di Jimbaran, I Gusti Agung Putu Agung/I Gusti Agung Maruti II senantiasa mohon keselamatan di Pura Ulun Siwi.2
            Berkisar setahun masa pengungsian, tersebarlah isu di Jimbaran, bahwa laskar Gel-gel akan menyerang Jimbaran. Di pihak lain, di wilayah Gel-gel tersebar isu bahwa pasukan putra-putra I Gusti Agung Maruti  akan kembali menyerang Gel-gel menuntut balas kematian orang tuanya. Pada masa itu rakyat Bali semua dalam keadaan resah terlebih warga Jimbaran, utamanya warga rombongan pengungsian yang telah menikmati ketenangan beberapa saat.
Didengar oleh Ida Brahmana Wayan Petung Gading bahwa rakyat Jimbaran resah, maka sebagai penanggungjawab wawengkon Jimbaran dan juga sebagai penerima kedatangan putra I Gusti Agung Maruti beserta rombongannya, berangkatlah Ida Brahmana Wayan Petung Gading menuju Gel-gel untuk menghadap Raja Bali, I Dewa Agung Jambe yang merupakan putra dari Dalem Di Made. Sepanjang perjalanan Ida Brahmana Wayan Petung Gading dari Jimbaran ke Gel-gel selalu disaksikan pembicaraan masyarakat tentang isu penyerangan tersebut. Namun amatlah bertentangan isu-isu itu pada masing-masing daerah, yang pada akhirnya Ida Brahmana Wayan Petung Gading menyimpulkan bahwa perkembangan situasi mencekam tersebut oleh seluruh rakyat Bali, hanyalah isu belaka yang tidak jelas sumbernya, sehingga masyarakat Bali secara keseluruhan menjadi kalut. Bahkan ketika Ida Brahmana Wayan Petung Gading akan memasuki areal kerajaan Gel-gel-pun persiapan untuk menghadapi pasukan putra-putra I Gusti Agung Maruti ke Gel-gel telah dilaksanakan pembuatan lubang-lubang perlindungan.
Setibanya Ida Brahmana Wayan Petung Gading di Istana Gel-gel dan menghadap Raja Ida I Dewa Agung Jambe, dengan senyum yang ramah Ida Brahmana Wayan Petung Gading menyampaikan salam kepada Raja Ida I Dewa Agung Jambe. Dengan keramahan pula Raja I Dewa Agung Jambe menyambut kedatangan Ida Brahmana Wayan Petung Gading dan menanyakan keberadaan keluarganya di Jimbaran. Dijawablah oleh Ida Brahmana Wayan Petung Gading bahwa seluruh keluarga yang ada di Jimbaran ada dalam keadaan baik. Juga disampaikan bahwa rombongan pengungsian keluarga putra dari I Gusti Agung Maruti beserta pengikutnya berjumlah ± 1200 orang berada di Jimbaran dan telah membuat pesraman di sana. Menanggapi isu yang berkembang bahwa akan terjadi kembali pertumpahan darah antara laskar Gel-gel dengan laskar putra-putra  I Gusti Agung Maruti, Ida Brahmana Wayan Petung Gading memohon agar dibatalkan. Oleh karena jika sampai kembali terjadi peperangan, sudah tentu masyarakat Bali akan habis musnah. Disamping itu, I Gusti Agung Putu Agung, putra dari I Gusti Agung Maruti, melalui Ida Brahmana Wayan Petung Gading menyampaikan permintaan maaf kepada Ida Dalem, Ida I Dewa Agung Jambe.
Mendengar permintaan bijak seperti itu akhirnya permintaan Ida Brahmana Petung Gading dikabulkan. Peperangan yang sedianya akan dilaksanakan diputuskan untuk dibatalkan. Namun dalam pertemuan tersebut ada piteket Dalem yang disampaikan;
Untuk Trah Dalem yang ada di Jimbaran, I Gusti Agung Putu Agung dan adik-adiknya beserta I Gusti Putu Kaler Pacekan, kasametonang rawuh kawekas, tan dados lipya sinalih tunggil asurud ale ayu. Selanjutnya Dalem Gel-gel juga nyusurang kewangsannya menjadi Gusti Pesalahan. Sedangkan trah Bendesa, Pasek, Dangka dan trah lain yang termasuk pengikut I Gusti Agung Putu Agung ke Jimbaran diberikan tambahan nama Salahin.
Atas keputusan Ida I Dewa Agung Jambe itu Ida Brahmana Wayan Petung Gading kemudian mohon pamit untuk kembali ke Jimbaran dengan keberhasilan “ngandeg”/meredam peperangan. Menjadikan masyarakat kagum, lega, bersyukur dan salut atas perjuangannya. Dengan berakhirnya isu serang-menyerang tersebut, masyarakat Bali menyambut dengan suka cita untuk kembali dapat menapaki kehidupan baru. Khususnya keluarga trah Dalem yakni Ida Brahmana Wayan Petung Gading yang kasametonang dengan keluarga I Gusti Agung Pt Agung, dan mendapat gelar “Pesalahan”. Dimulailah kembali aktivitas kehidupan dua darah yang dipersaudarakan oleh adanya Bhisama Raja Bali di Puri yang disebut dengan nama Puri Pesalahan, kemudian lama kelamaan penyebutannya menjadi Pasalakan.
Semenjak kedatangan Ida Brahmana Wayan Petung Gading dari Klungkung masyarakat Jimbaran dapat menikmati kembali ketenangan menjalankan kehidupan dan terbebas dari rasa takut akan adanya serangan dari pihak pasukan kerajaan Dalem. I Gusti Agung Pt Agung pun setiap waktu memohon keselamatan di Pura Ulun Siwi dan Pura Dalem Balangan yang telah ada waktu itu. Dan atas karuniaNya melalui Pura Ulun Siwi, I Gusti Agung Pt Agung mendapatkan keselamatan untuk dapat melanjutkan kehidupannya. Oleh karena telah cukup umur untuk menikah, atas perkenan Ida Brahmana Wayan Petung Gading, dinikahkanlah putri Ida Brahmana Wayan Petung Gading yang bernama Ida Ayu Mas Jimbaran dengan I Gusti Agung Pt Agung.

Tidak berselang lama timbul permasalahan antara I Gusti Agung Pt Agung dengan I Gst Pt Kaler Pacekan. Atas kejadian itu I Gusti Agung Pt Agung memutuskan untuk pergi meninggalkan Jimbaran menuju penguasa Badung Pangeran Tegeh Kori. Oleh Pangeran Tegeh Kori diberikan tempat di daerah Lumintang. Dari perkawinannya dengan putri Ida Brahmana Wayan Petung Gading yang bernama Ida Dewa Ayu Mas Jimbaran, lahir seorang putera diberi nama I Gst. Gde Jimbaran. Tak lama tinggal di wilayah Lumintang, Badung, I Gusti Agung Pt Agung meninggalkan anak dan istrinya menuju daerah Kapal untuk membantu Pangeran Kapal. Pangeran Kapal adalah keturunan Pangeran Asak, saudara kandung Pangeran Nyuh Aya yang juga leluhur I Gusti Agung Pt Agung. Beliau memiliki masalah dengan Pangeran Buringkit. Atas bantuan ketangguhan I Gusti Agung Pt Agung maka Pangeran Kapal akhirnya dapat memenangkan peperangan dengan Pangeran Buringkit.

Namun disisi lain, kekalahan pasukan Pangeran Buringkit, tidak menyurutkan upayanya meraih kemenangan. Dengan jalan mohon bantuan kepada I Gst Putu Kaler Pacekan yang saat itu masih tinggal di Jimbaran hal mana memiliki permasalahan dengan I Gusti Agung Pt Agung, dengan mengandalkan keris pusaka Ki Sekar Gadung, akhirnya peperangan dapat dimenangkan kembali oleh Pangeran Buringkit.
Atas kekalahan ini I Gusti Agung Pt Agung pergi meninggalkan Kapal kembali ke Jimbaran. Selama beberapa waktu bersemedi di Pura Dalem Balangan Jimbaran, akhirnya mendapatkan petunjuk untuk bersemedi di Pura Goa Gong. Dengan melakukan semedi di tempat tersebut I Gusti Agung Pt Agung mendapatkan sebuah Keris bernama Ki Bintang Kumukus. Dari sini pula didapatkan petunjuk untuk menuju suatu tempat di daerah timur yang terlihat seperti embun yang bersinar keemasan. Setelah ditelusuri ternyata embun bersinar keemasan itu bersumber pada sebuah bebaturan pelinggih yang berada di alas Gianyar. Di tempat itulah kemudian dibangun sebuah Pura yang kemudian diberinama Pura Mas Ceti. Sebagai tempat beristirahat kemudian beliau mendirikan sebuah rumah sederhana (kuwu). Sejak saat tersebut daerah sekitarnya kemudian diberinama Kuwumas, selanjutnya disebut Kuramas.
Dengan tersiarnya kabar I Gusti Agung Pt Agung mendapat panugrahan ini, kemudian I Gusti Agung Pt Agung kembali menyusun rencana penyerangan untuk membalas kekalahannya terhadap I Gst Putu Kaler Pacekan. Dengan pertimbangan yang matang akhirnya diputuskanlah untuk kembali menyerang I Gst Putu Kaler Pacekan ke Buringkit berbekalkan Keris Ki Bintang Kukus. Dalam penyerangan tersebut akhirnya I Gst Putu Kaler Pacekan dapat dikalahkan dan gugur sebagai ksatria di Gunung Pegat. Putra-putranya dan pengikutnya menyelamatkan diri ke berbagai tempat. Atas kemenangan ini I Gusti Agung Pt Agung menjadi penguasa wilayah Kapal dan Buringkit dan menandai bangkitnya kembali trah Arya Kepakisan dalam kancah perpolitikan di Bali kala itu. Sadar akan kebangkitan itu tidak lepas dari bantuan secara sekala oleh Ida Brahmana Wayan Petung Gading, secara niskala adalah berkat dari  permohonannya di Pura Ulun Siwi dan Pura Dalem Balangan, Pura Goa Gong dan Pura Mas Ceti. Maka untuk selanjutnya kekuasaan di Kapal diserahkan kepada adiknya I Gst Agung Made Agung dan mengajak tinggal adiknya yang lain I Gst Ayu Ratih. I Gst. Agung Maruti II dari Kapal kembali menuju Jimbaran. [4] Sekembalinya dari kemenangan di Kapal, muncullah niat I Gusti Agung Putu Agung untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya kepada sekala dan niskala yang telah menganugerahi kesempatan hidup dan kemenangan yang membahagiakan. Sebagai implementasi dari bhisama kasemetonang dengan Ida Brahmana Wayan Petung Gading, dipugarlah Pura Ulun Siwi tempat beliau dahulunya selalu mohon keselamatan. Bersama dengan Ida Bhrahmana Wayan Petung Gading, Gedong Meru Tumpang Solas yang telah ada sebelumnya dibuat menjadi 2 rong. Satu rong sisi Utara sebagai stana leluhur dari I Gusti Agung Pt Agung, sedangkan rong sisi selatan sebagai stana leluhur dari Ida Brahmana Wayan Petung Gading. (I Gusti Agung Pt Agung, leluhurnya adalah Raja Kediri). Uniknya dibuat menghadap ke Timur sehingga jika bersembahyang mesti menghadap ke Barat.
Setelah kegiatan itu I Gusti Agung Pt Agung memutuskan menempatkan Bendesa Miber yang lebih dikenal dengan sebutan Bendesa Salain untuk tetap tinggal di Jimbaran. Sedangkan Bendesa Kedeh dan Bendesa Prawangsa diajak bersama menuju Keramas. Dengan demikian yang masih tinggal di Puri Pesalakan Jimbaran selain Keturunan Ida Brahmana Wayan Petung Gading juga keturunan I Gst Miber yakni Bendesa Miber/Bendesa Salain. Bendesa Salain diserahi tugas untuk merawat merajan yang telah dibangun di Puri Jimbaran dan pura Ulun Siwi. Juga tidak diperkenankan melupakan Pura Dalem Balangan.[5]


[1] Rai Putra IB, Drs, Babad Dalem, hal. 79, UPADA SASTRA, 1991
[2] Anonim. Pabancangah Puri Keramas, Gianyar.
[3] Babad Pulaki, milik Gde Nym Pen, Br. Umadiwang, Belayu Marga, Tabanan.
[4] Yadnya, I Gst. Ag. Pt, Prati Sentana Sri Nararya Kresna Kepakisan, Prawartaka Pura Kawitan di Banjar Dukuh Gel-gel, Klungkung, Cetakan Pertama, Seri Permulaan, 1999
[5] Ibid 2.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar