Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 01 Juni 2011

Silsilah Pratisentana Dalem Petak Jimbaran


Lihat Diagram Silsilah Pratisentana Dalem Petak Jimbaran,  


D

alam penjelasan prasasti Dalem Kembar Wijiling Watu di Belayu keberadaan Putra dari Ida Brahmana Wayan Petung Gading dapat dijelaskan mulai dari waktu setelah Kerajaan Mengwi berdiri (berkisar antara 30 – 50 an tahun dari kejadian pelarian I Gusti Agung Putu Agung ke Jimbaran). Pada masa terjadi permasalahan yang dipicu oleh Ki Balian Batur (fase tahun 1700-1750M). Oleh Raja Mengwi waktu yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan, I Gde Bandesa Gumyar diminta untuk menaklukan Ki Balian Batur dengan Ajian Sulambang Gni, Gni Wiracana, Pasupati Rencana, Canting Mas, Siwer Mas, Aji Kreket dan lain-lain beserta Aji Kalepasan yang dianugerahi oleh Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Setelah dapat ditaklukkan, dimintalah I Gde Bandesa Gumyar menetap di Mengwi. Dari ke 2 (dua) orang istri I Gde Bandesa Gumyar, beliau memiliki 5 (lima) orang putra. Dari yang tertua I Gde Duaja, I Gde Pangi, I Gde Buyar, I Gde Kerab dan I Gde Sahur. Setelah putra-putra beliau dewasa, terjadilah suatu permasalahan yang mengganggu ketentraman masyarakat di Belayu akibat ketidakmampuan Pinanditanya meredam kemurkaan Bhuta Kala bernama Ki Raksasa Kaburat Ula. Atas permohonan Raja Belayu kepada Raja Mengwi untuk mencarikan jalan keluar penyelesaian masalah tersebut, maka ditunjukklah putra sulung I Gde Bendesa Gumyar, yaitu I Gde Duaja yang telah menguasai kemampuan spiritual (meneruskan kemampuan orang tua dan leluhurnya) untuk menumpas Bhuta Kala tersebut. Berangkat dari penugasan tersebut I Gde Duaja menuju kerajaan Belayu. Di Belayu akhirnya I Gde Duaja berhasil menaklukkan Raksasa Kaburat Ula tersebut, kemudian meleburnya di tepi sungai Sungi. Kini tempat peleburan tersebut masih tetap dipergunakan sebagai tempat untuk membuang upakara caru, tepatnya di tepi jembatan baru masuk Belayu. Dengan keberhasilan tersebut, I Gde Duaja yang berniat kembali ke Mengwi, dimohon untuk tetap tinggal di Belayu dengan dibekali 200 (dua ratus) wadwa/panjak dan seperangkat gamelan. Mulai saat itulah I Gde Duaja menetap di Belayu. Sejalan dengan melebarnya wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi dan sadar akan putra dari I Gde Bandesa Gumyar yang lain beranjak dewasa, maka kemudian menyebarlah saudara-saudara I Gde Duaja ke berbagai penjuru menempati wilayah baru sebagai pengembangan wilayah Kerajaan Mengwi dan  dipercayakan sebagai pelindung masyarakatnya. Selain I Gde Duaja yang telah menetap di Belayu, adik-adiknya yang lain menuju ke tempat sebagai berikut;
a.      I Gde Pangi Ke Jimbaran kemudian ke Tista Kerambitan. Namun seorang putranya tetap di Mengwi.
b.      I Gde Buyar Ke Kayu Putih, Buleleng
c.       I Gde Kerab Ke Jembrana dan
d.     I Gde Sahur Ke Tunjuk, Marga, Tabanan

B
eberapa saat setelah mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Mengwi mulai mendapat cobaan dan ujian berat dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari Kerajaan Badung. Dari kejadian ini, penglingsir yang masih ada di Mengwi menyelamatkan diri menuju anggota keluarganya  yang telah ada di Belayu, Marga dan Baluk, Jembrana. Tegak Natah Pekarangannya pun dirampas oleh pemenang perang, pasukan Kerajaan Badung. Beberapa waktu berikutnya setelah situasi kembali aman, salah satu penerus keturunan I Gde Pangi yang sebelumnya juga menyelamatkan diri ke Belayu, kembali lagi ke Mengwi untuk dapat merawat merajan yang tertinggal. Tetapi memilih tempat tidak pada pekarangan rumah aslinya terdahulu. Melainkan sisi “teba”nya, karena setelah perampasan tersebut, pekarangan yang terjarah itu selalu kosong tidak ditempati. Untuk menghindari kesalahan dalam urusan bhakti kepada leluhur, akhirnya dituntunlah Ida Bhatara di Merajan Mengwi bersama bangunan kemulan aslinya untuk dibuatkan linggih di Belayu (tempat Merajan Bp. Gde Arka Sindhu). Demikianlah keberadaan keturunan Ida Dalem Putih Jimbaran di Belayu, yang kini sesuai apa yang ditulis dalam prasasti menjadi penglingsir dari pilahan keluarga yang ada di Bali keturunan I Gde Bandesa Gumyar. Perkembangan terakhir dari KK yang ada berjumlah berkisar 625 KK.
T
entang penamaan I Gde Bandesa Gumyar, begitu banyak versi yang menyatakan tentang siapa yang sebetulnya mengalahkan Ki Balian Batur, cerita yang begitu melegenda. Pada babad Mengwi dikemukakan bahwa sebutan Bandesa Gumyar diberikan kepada seluruh perangkat perang yang telah berhasil mengalahkan Ki Balian Batur. Sebutan Bandesa Gumyar dimaknakan sebagai pemimpin yang dapat menciptakan gumi/kehidupan cerah kembali setelah mencekam di hantui rasa takut oleh ulah Ki Balian Batur. Dalam babad lain juga ada disebutkan bahwa Ki Balian Batur dikalahkan oleh adanya bantuan senjata milik Ida Dalem bernama Ki Narantaka dengan pelurunya bernama Ki Sliksik.
Nah, untuk tidak menjadikan kebingungan tentang siapa I Gde Bandesa Gumyar yang dimaksudkan oleh Prasasti Penguger yang telah dengan tegas-tegas menyatakan bahwa ajian pemberian Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh yang diberikan kepada leluhur kita (I Gde Bandesa Gumyar keturunan Ida Brahmana Petung Gading Penguasa Jimbaran)-lah yang dapat menaklukan Ki Balian Batur. Begitulah tulisan yang termuat dalam prasasti Belayu, menambah keyakinan akan yang dimaksud tersebut adalah memang leluhur kita. Menimbang upaya-upaya penutupan identitas yang sebenarnya dalam prasasti masih dianggap diperlukan.
2.      Kelompok Keluarga Keturunan Ida I Dewa Ayu Mas Jimbaran, di Jimbaran.
K
elompok keluarga yang dimotori oleh generasi muda Bp. I Md. Widana dan I Md. Restu ini, menyatakan diri sebagai keluarga besar pratisentana Ida Dalem Putih Jimbaran yang memang telah menjadi sungsungannya secara turun-temurun. Kelompok keluarga yang tinggal di timur laut Pura Ulun Siwi ini menjadi pekandel segara urusan kegiatan di Pura Ulun Siwi, Pura Prasidha, Kuta dan khususnya untuk Pura Dewa Ayu Mas Jimbaran. Kelompok keluarga ini telah kaperas putra oleh Ida I Dewa Ayu Mas. Trah yang mengaku secara turun temurun di ceritakan oleh tetuanya bahwa kaperas putra oleh Ida I Dewa Ayu Mas Jimbaran ini adalah;
-         Trah Puna Natah
-         Trah Pasek Kemoning,
-         Trah Pasek Pempatan,
-         Trah Pasek Gel-gel dan
-         Trah Arya Pinatih.
Dari apa yang telah mereka lakukan secara turun temurun, tidaklah mungkin dipungkiri bahwa mereka juga memiliki hak dan kewajiban berkawitan kepada Ida Dalem Putih Jimbaran menjadi bagian keluarga besar pratisentana Ida Dalem Putih Jimbaran. Hingga kini jumlah KK yang ada berkisar antara 40 – 50an KK. Merekalah yang mempertanggung-jawabkan pusaka Prasasti yang ada di Grya Satrya, sejak dialihkan posisinya dari rumah Pesalakan ke Grya Satrya dengan pertimbangan bahwa mereka juga berhak dan pantas sebagai penyungsungnya. Dalam kenyataannya sebelum mendapat penjelasan detail tentang fungsi prasasti secara harfiah, untuk sementara waktu sebelum diketahui secara pasti afiliasi kawitannya mereka memfungsikan prasasti tersebut sebagai linggih Pura Kawitan. Setelah mendapatkan penjelasan dari para penglingsir yang menggeluti pemahaman penelusuran sejarah dan juga terlibat dalam kepengurusan organisasi keluarga pratisentana Dalem Putih Jimbaran, mereka kemudian dengan sigap telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai pratisentana tidak saja dalam batasan sebutan sebagai Ida Dalem Putih Jimbaran, tetapi telah pula dilakukan langkah awal menuju Pedharman Leluhur dari Ida Dalem Putih Jimbaran/Ida Dalem Balangan yaitu menuju Pedharman Dalem Krsna Kepakisan di Besakih dan di Pedharman Dalem Tarukan, Pulasari Bangli. Mereka semakin yakin akan kebenaran langkahnya karena ditunjukkan berbagai macam bukti oleh sungsungannya yang juga semestinya menjadi sungsungan keluarga Besar Dalem Putih Jimbaran di Pura Pererepan Dewa Ayu Mas Jimbaran, Pura yang sangat dihormati di kalangan masyarakat umum Jimbaran.
3.      Kelompok keluarga trah Dalem Putih Jimbaran yang masih belum menemukan penjelasan detail terkait kesilsilahan namun memang telah melaksanakan kewajiban sebagai pratisentana secara turun temurun.
S
ejauh penulisan ini masih terdapat beberapa kendala untuk mendapatkan informasi tentang keturunan Ida Brahmana Wayan Petung Gading selain Ida I Dewa Ayu Mas Jimbaran. Menyadari akan situasi dan kondisi cerita sejarah sebagaimana terungkap dalam ulasan di atas, dapat ditangkap bahwa upaya penyamaran, tidak menyertakan dalam penulisan silsilah keturunan secara jelas, dan penggunaan simbolik simbolik sebagai warisan yang diterima saat ini adalah merupakan upaya penyelamatan pratisentana dari segala kemungkinan malapetaka yang kemungkinan lagi menimpa dikemudian hari. Oleh karenanya masih banyak tugas yang harus diemban untuk melengkapi kejelasan keberadaan pratisentana Ida Dalem Putih Jimbaran yang masih belum terhubung dalam tatanan silsilah ini. Dan bukan berarti kelompok keluarga yang belum tercatat dalam silsilah ini bukan merupakan bagian dari keturunan Ida Dalem Putih Jimbaran. Kita semua berharap, dalam rentang waktu penelusuran ke depan, penjelasan tentang keberadaan kelompok keluarga trah Dalem Putih Jimbaran dimanapun berada dapat terjelaskan secara jelas. Seperti:

-         Kelompok Keluarga di Perean, Baturiti Tabanan
-         Kelompok Keluarga di Tiying Gading, Tabanan
-         Kelompok Keluarga di Batubulan, Gianyar
-         Kelompok Keluarga di Suwung Kalimanjing, Denpasar
-         Dan Kelompok Keluarga yang lain

4.      Kelompok Keluarga yang atas petunjuk spiritual dari kejadian yang dialami ditunjukkan agar berhulu dan melaksanakan swadarmaning makawitan pada Ida Dalem Putih Jimbaran.
K
elompok keluarga ini berdasarkan keyakinan dan bukti nyata yang mereka dapat rasakan, mengawali pencerahan melalui petunjuk spiritual telah mulai melaksanakan kewajiban swadarmaning makawitan terhadap Ida Dalem Putih Jimbaran. Hal ini sangat mungkin terjadi pada beberapa kelompok keluarga mengingat kisah sejarah masa lalu yang demikian pelik. Hingga yang dipentingkan adalah hidupnya sebagai prioritas. Masalah asal muasal kawitan atau triwangsanya, mungkin juga bukti peninggalan penglingsirnya pun tidak sempat terbawa dalam penyelamatan diri dari ancaman-ancaman pasukan kerajaan yang dihadapi masa itu. Sehingga oleh penerus keturunannya kini sama sekali tidak dapat ditunjukkan hal yang prinsip untuk mengarahkan gambaran afiliasi kawitannya. Atas paica asih dari spirit leluhurnyalah muncul petunjuk-petunjuk agar dapat terhindar dari segala macam godaan-godaan, gangguan  yang ada. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar